Ciangsana Farm

# peternakan kambing perah di pinggir Jakarta#

#061: Susu Kambing atau Susu Etawa?


Di era akhir dekade 90-an dan awal 2000-an, meyakinkan masyarakat untuk mengkonsumsi susu kambing sangatlah susah. Hampir di benak semua masyarakat, susu segar yang dikenal hanyalah susu sapi. Susu kambing, itu identik dengan bau amis, prengus dan menjijikkan.

Bahkan, “mitos menyesatkan” yang berkembang di sebagian masyarakat mengatakan bahwa minum susu kambing justru menjadi pemicu penyakit ‘bengek’ (asma).
Karenanya, strategi pemasaran susu kambing pada saat itu menggunakan istilah “Susu Etawa”, baru laku. Lima tahun terakhir baru istilah “susu kambing” sudah mulai familiar, dan resistensi dari masyarakat tidak terlalu tajam.

Cerita di atas saya dapatkan dari seorang teman yang menjadi agen susu Ciangsana’s Farm di Pondok Gede; yang memberikan saya ilmu hikmah dalam banyak hal antara bisnis dan ibadah sosial, dan ini menjadi ilham bagi saya untuk menuangkannya dalam sebuah tulisan khusus kali ini.

***


Seorang agen susu di daerah Radar AURI, Cimanggis cerita ke saya bahwa dia hanya khusus menjual susu kambing Etawa. Menurutnya, susu Etawa merupakan warisan jaman Nabi SAW dan khasiatnya berbeda (lebih baik) daripada susu kambing biasa.

Cerita di atas menjadi lucu dan rancu, apalagi dikait-kaitkan dengan nabi. Pertama, di dunia Arab tradisi minum susu kambing memang hal yang lumrah, tapi di Arab tidak mengenal kambing Etawa. Yang ada adalah kambing Somalia. Kambing Etawa/Jamnapari justru asal-usulnya dari India. Jadi referensi yang disebutkan si agen “fanatik Etawa” tadi tidak valid.

Seandainya para Nabi hidup di Jawa, maka bisa dipastikan susu kambing kacang yang terkenal. Bahkan kambing PE sendiri baru ada di era kolonial Belanda (1700-an). Jamnapari dikembangkan dikawinkan dengan kambing kacang di kaki bukit Menoreh (Purworejo) yang kemudian disebut kambing PE (Peranakan Etawa), dan Jamnapari yang disilangkan dengan kambing Menggala di lereng Gunung Tengger yang kemudian disebut kambing PE Jawa Timuran (Senduro).

Kedua, saya ceritakan ke agen “fanatik Etawa” tadi, bahwa peternak susu berskala besar seperti di Leuwiliang dan pinggir jalan tol Bogor pun kambingnya campuran. Artinya, bukan susu kambing Etawa 100%, tapi SUSU KAMBING. Prinsipnya yang penting kambing ada susunya.

Ketiga, saya sampaikan ke agen Cimanggis tadi, jangan2 itu hanya permainan (baca: isu yang sengaja dihembuskan) para peternak Etawa agar breedingnya laku, dengan menisbikan kambing2 perah yang lain.
Padahal, sangat jelas dalam tulisan saya #060 tentang “Ragam Jenis Kambing Perah”; bahwa kambing perah bukan hanya jenis Etawa saja, tapi di situ disebutkan 20 model kambing perah. Kemudian saya tambahkan 4 model lagi kambing yang bisa diperah di Indonesia.

Moral story-nya pembaca, bahwa kambing perah bukan MONOPOLI jenis etawa saja. Asal kambing memiliki spesifikasi kambing perah (putingnya bagus, ambingnya bagus, produksinya bagus, dan kambing dalam kondisi sehat), maka susunya pun bisa diminum. Dan, kita jangan membodohi masyarakat dengan “mitos2 yang menyesatkan” bahwa hanya susu kambing Etawa yang “SAH” untuk diminum. Karena penyebaran mitos2 seperti itu merupakan bagian dari pembodohan dan penyesatan informasi kepada masyarakat. Apalagi sampai membedakan harga antara susu Etawa dengan bukan etawa.  Menurut saya, itu hanya bagian dari taktik/strategi penjualan untuk mengeruk keuntungan sesaat demi kepentingan sendiri.

Ingat, jaman Nabi tidak mengenal susu etawa..!!!

Dan ingat, kita sekarang hidup di jaman modern, bukan lagi di era serba dukun/paranormal; ketika perkataan dan tindakan seorang dukun dijadikan sebagai panutan. Biarkan ilmu2 modern/tes kesehatan/tes kebersihan/tes laboratorium yang membuktikan apakah susu kambing layak dikonsumsi ataukah tidak.

Jika (sudah) ada istilah MAFIA KAMBING, semoga jangan sampai ada MAFIA SUSU KAMBING; yang bicara hanya untuk kepentingan diri sendiri.

Sebarkanlah susu kambing ke masyarakat karena itu termasuk salah satu obat. Jangan aji mumpung tarik harga tinggi di saat masyarakat membutuhkan obat tersebut. Inilah inti “bisnis-sosial” yang diterapkan oleh Ciangsana’s Farm.

Salam,
(c) aGusJohn,
Ciangsana, 20 Agustus 2010

August 20, 2010 - Posted by | info susu kambing

2 Comments »

  1. setuju pak…

    Comment by ari | August 20, 2010 | Reply

  2. Nice posting, nambah wawasan lagi neh about susu kambing….
    Thanks

    Comment by abu hz | January 3, 2011 | Reply


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: