Ciangsana Farm

# peternakan kambing perah di pinggir Jakarta#

#068: Masa Laktasi


Kambing Sapera koleksi Ciangsana's Farm

Setelah lahiran, induk kambing dibersihkan bagian tubuhnya dari sisa-sisa kelahiran. Di Ciangsana’s Farm, sehari setelah lahiran, induk kambing biasanya kita suntik antibiotik 4 ml untuk mencegah penyakit/infeksi dan sebagai penahan sakit kambing pasca lahiran.

Pengecilan rahim ke ukuran normal butuh waktu sekitar 2 minggu. Induk kambing harus diperhatikan pakan hijauan, minuman dan konsentrat yang jumlah dan kualitasnya harus terjaga. Anakan cempe dibiarkan sepuas-puasnya menyusu pada induknya agar kuat dan lincah serta aktif.

Anakan cempe yang menyusu pada induknya kuliatasnya jauh lebih bagus dibandingkan dengan menyusu pakai susu sapi atau susu formula. Tapi, bagi orang yang bermain di segmen perah, toleransi anakan cempe menyusu pada induknya cukup maksimal 10 hari saja, sesuai masa keluarnya collustrum pada induk kambing pasca lahiran.

Anakan cempe umur 3 minggu sudah mulai belajar makan rumput muda, daun-daunan muda, dan sudah boleh diberi konsentrat dalam bentuk bubur sebagai bahan penguat. Anakan cempe seyogyanya tidak lagi diberi susu lagi setelah umurnya masuk 3 bulan (tepatnya mulai dikurangi) karena sudah tiba masanya untuk disapih.

Penyapihan dini dapat dilakukan ketika anakan cempe berumur 3 bulan jalan. Caranya, pisahkan anakan cempe dari kandang induknya. Pemisahan ini biasanya menimbulkan keributan, tetapi tidak lama. Beberapa hari setelah dipisah, mereka akan diam sendiri. Umumnya seminggu sudah lupa. Kecuali induk kambing yang kurang ‘njawani’; kurang care dengan anaknya. Indukan kambing yang memliki sifat kurang keibuan, galak, habis lahiran pun dia sudah lupa dengan anaknya.

Menurut pengalaman, anakan cempa walaupun sudah disapih, pada usia 4-5 bulan bisa mengenali kembali induknya. Mereka bisa saling berisik/mengembik. Si induk seolah-olah memanggil anaknya, dan si cempe kemudian datang mendekat. Jika si induk tersekat dalam kandang, maka si cempe biasanya setia menunggui hingga tertidur di sebelah ruang sekat kandang induknya. Dan jika diberi kesempatan kumpul,

*diresume dari B. Sarwono, “Beternak Kambing Unggul”, Penebar Swadaya 2007 dengan kolaborasi pengalaman di kandang Ciangsana’s Farm.

Salam,
(c) aGusJohn
Ciangsana, 26 September 2010

September 27, 2010 - Posted by | seputar kambing

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: