Ciangsana Farm

# peternakan kambing perah di pinggir Jakarta#

Tekan Kematian Balita, Iklan Susu (Formula) Dilarang


Tekan Kematian Balita, Iklan Susu Dilarang
Yang meresahkan, ada promosi terselubung yang langsung menghubungi ibu baru melahirkan.
Selasa, 26 Oktober 2010, 00:46 WIB

Petti Lubis

 

Bayi Minum Susu (inmagine.com)

VIVAnews – Pemerintah akan melarang penayangan iklan komersial dan promosi terselubung susu formula untuk anak di bawah usia satu tahun, untuk menekan angka kematian anak balita, mulai tahun depan.

Tayangan iklan yang dilancarkan sejumlah produsen susu formula, menurut Kementrian Kesehatan, bisa membuat asupan ASI (air susu ibu) makin menurun. Sebab, iklan tersebut memicu para orangtua langsung memberikan susu formula pada bayinya di awal-awal kelahiran.

Padahal, pemberian ASI eksklusif dapat menekan angka kematian bayi di bawah lima tahun. Hal ini dikuatkan oleh data Kemenkes yang menunjukkan kematian pada kelahiran baru (neonatal) turun 17 persen dan 12 persen pada anak di bawah lima tahun dengan pemberian ASI eksklusif.

Maka itu, pemerintah akan melarang semua iklan, baik di media cetak, elektronik, maupun luar ruang. Dan, akan ada sanksi administratif kepada produsen susu formula yang nekat mengiklankan produknya yang ditujukan untuk bayi satu tahun ke bawah.

Menteri Kesehatan, Endang Rahayu Sedyaningsih, menegaskan pemerintah  juga melarang kerja sama antara produsen susu formula dan pelayanan kesehatan negeri dan swasta, termasuk rumah bersalin, dokter, dan bidan.

Pelarangan ini juga disambut baik oleh Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) dan Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI). Kedua pihak ini memandang, iklan-iklan susu formula yang mengesankan perlunya susu formula sebagai minuman susu bagi bayi belakangan ini kian marak.

Padahal, kata anggota YLKI Husnah Zahir, pelarangan itu sebenarnya telah tercantum dalam Peraturan Pemerintah nomor 69 tahun 1999 tentang label dan iklan pangan. “Bentuk iklan susu formula sampai usia 1 tahun itu tidak boleh,” kata Husnah kepada VIVAnews.

Dalam pasal 47 dituliskan bahwa iklan tentang pangan yang diperuntukkan bagi bayi yang berusia lanjut dengan 1 (satu) tahun, dilarang dimuat dalam media massa, kecuali dalam media cetak khusus tentang kesehatan, setelah mendapat persetujuan Menteri Kesehatan. Selain itu, iklan yang bersangkutan wajib memuat keterangan bahwa pangan yang bersangkutan bukan pengganti ASI.

Husnah memberi contoh satu iklan susu formula di televisi. Iklan tersebut memang mengiklankan untuk anak berumur di atas satu tahun. Tapi cara penggambaran dengan mengiklankan bayi dan angka 1,2,3, berikut dengan  memberikan manfaatnya seperti memberi ‘kesan’ bahwa susu formula itu perlu diberikan ke bayi untuk mendapatkan kecerdasan, kesehatan dan lain-lainnya.

“PP secara tegas juga menyebut, iklan dilarang memuat keterangan atau pernyataan bahwa pangan tersebut adalah sumber energi yang unggul dan segera memberikan kekuatan,” kata Husna.

Menurut dia, meski tidak secara langsung iklan itu melanggar, nyatanya tetap saja ada ‘kesan’ yang mengartikan bahwa produk susu itu lebih baik dari ASI.

Menurut Ketua AIMI Mia Sutanto,  yang cukup meresahkan, promosi ini tak hanya gencar di iklan-iklan di media cetak atau elektronik, namun ada juga promosi terselubung. “Tidak sedikit produsen susu yang secara gencar mempengaruhi lewat interaksi sosial. Entah itu, adanya promosi lewat sarana kesehatan, tenaga kesehatan, atau langsung menghubungi ibu yang baru melahirkan,” ujar Mia.

Dalam hal ini, Husna menambahkan, pabrikan susu formula juga mempromosikan susu produknya dengan cukup unik pada ibu menyusui. “Ada yang langsung stand by di tempat-tempat ibu melahirkan berkumpul, lewat sarana pengumuman atau ada juga yang langsung menelepon ibu si bayi. Metode marketing seperti ini tentu saja harus segera dilarang oleh pemerintah.”

Dan, yang perlu ditahui, larangan iklan susu formula itu sudah dikeluarkan WHO sejak 1981, dalam bentuk kode etik, seperti dikutip dari ‘The International Code of Marketing of Breastmilk Subsitutes‘. Dalam salah satu pasal menyatakan, “Personil pemasaran, dalam kapasitas bisnisnya, hendaknya tidak melakukan kontak langsung atau tidak langsung dalam bentuk apapun juga dengan perempuan hamil atau dengan ibu dari bayi atau anak (balita).”

Menurut Mia, segala macam bentuk promosi susu formula itu bisa ‘mencuci otak’ para ibu. Banyak ibu yang produksi ASI-nya tidak lancar. Tapi, karena merasa ASI bisa digantikan dengan susu formula, tidak sedikit ibu yang cenderung langsung beralih ke susu formula.

“Padahal, dengan edukasi cukup serta didampingi banyak pihak untuk mendukung pemberian ASI, sang ibu bisa berusaha memproduksi ASI. Sehingga, bagi mereka susu formula bukanlah pilihan pertama.”

Ia berharap peraturan larangan iklan susu formula tidak hanya untuk bayi di bawah 1 tahun, tapi juga 2 tahun. “Sebab, menurut WHO, ASI merupakan asupan terbaik bayi baru lahir hingga berusia dua tahun,” ujar Mia.
***

Menyoal kandungan susu formula, sejumlah penelitian ilmiah asing menyatakan susu yang berasal dari sapi ini juga memiliki kelemahan, yang bisa berefek pada kesehatan bayi. Produk susu formula China sempat ditarik dari pasaran pada 2008 setelah diketahui mengandung melamin. Yaitu, racun kimia yang biasa digunakan untuk membuat plastik, digunakan secara ilegal untuk mendapatkan kandungan protein yang tinggi.

Tak hanya itu, beberapa bulan lalu, para orangtua dan dokter di China khawatir dengan hormon dalam susu formula yang diberikan pada bayi perempuan mereka. Hal itu karena China Daily melaporkan, hormon tersebut bisa memicu pertumbuhan payudara lebih cepat.

Sedangkan penelitian tim dari MRC Childhood Nutrition Research Centre di University College London, Inggris, mengungkapkan susu formula yang diberikan sejak bayi bisa memicu obesitas.

Para peneliti percaya, susu yang diperkaya protein dan nutrisi lainnya mengandung lebih banyak kalori dan memicu pertumbuhan berat badan saat fase pertumbuhan penting. Penelitian sebelumnya juga menunjukkan 20 persen obesitas pada orang dewasa kemungkinan disebabkan kelebihan nutrisi atau peningkatan berta badan berlebih saat bayi.

Karena itu, sebagai ibu yang baik, Anda perlu mencari tahu tentang produk susu formula Namun, di balik kelemahannya, susu formula masih diperlukan bayi pada kondisi-kondisi khusus.

Menurut dokter spesialis anak dari Rumah Sakit Harapan Kita, Edy Siswanto, ada beberapa masalah kesehatan yang dialami ibu atau bayi sehingga membutuhkan asupan susu formula. Misalnya, kesehatan bayi bermasalah atau sang ibu terserang penyakit akibat virus dan gangguan kesehatan lainnya.

Bagaimana dengan asupan pengganti ASI, seperti air tajin? “Air tajin hanya mengandung karbohidrat, sedangkan susu formula lebih tinggi kandungan nutrisinya yang diperlukan bayi,” kata dr. Edy.

Namun, meski ada beberapa kondisi khusus yang membuat bayi butuh konsumsi susu formula, dr. Edy menyarankan bagi para produsen susu untuk mencantumkan kampanye ASI Ekslusif minimal 6 bulan, agar susu formula tidak menjadi pilihan pertama.

• VIVAnews

October 26, 2010 - Posted by | info susu kambing

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: